Rabu, 09 November 2016

Mini Projek Teknik Biokimia - ISOLASI DAN KARAKTERISASI ENZIM α-AMILASE DARI KECAMBAH KACANG HIJAU



ISOLASI DAN KARAKTERISASI ENZIM α-AMILASE DARI KECAMBAH KACANG HIJAU

Neli Oktalia
Lab. Agroindustri dan Tanaman Obat Prodi. Kimia Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Jambi

ABSTRAK
Kacang hijau merupakan tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan karena kandungan protein dan karbohidratnya yang sangat tinggi. Protein dan karbohidrat juga diperlukan oleh biji dalam proses perkecambahannya. Saat berkecambah, karbohidrat dalam biji dalam bentuk amilum diurai menjadi senyawa yang lebih sederhana oleh enzim α-amilase.Enzim α-amilase diisolasi dan dikarakterisasi dari kecambah hijau dengan metode FUWA, pada kecambah hijau sebagai perbandingan untuk menentukan jumlah enzim α-amilasenya divariasikan tempat pertumbuhan yaitu pada tempat gelap terang dan lama usia pertumbuhan, adapun aktivitas enzim didapat paling tinggi pada hari 1-3 terjadi penurunan pada hari ke 5-7 pengukuran berupa absorbansi yang diukur dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis.
ABSTRACT
Green beans is a plant widely used as food for protein and carbohydrate content is very high. Protein and carbohydrates are also required by the seed germination process. When germinate, carbohydrates in grains in the form of starch is broken down into simpler compounds by the enzyme α-α-amylase amilase.Enzim isolated and characterized from green sprouts with FUWA method, the green sprouts as a comparison for determining the amount of the enzyme α-amilase varied where growth ie on a bright and long dark age of growth, while the highest enzyme activity obtained on day 1-3 decline on days 5-7 of measurement such as absorbance was measured using a UV-Vis spectrophotometer.


PENDAHULUAN
Enzim adalah substansi yang dihasilkan oleh sel-sel hidup dan berperan sebagai katalisator pada reaksi kimia yang berlangsung dalam organisme, katalisator adalah substansi yang dapat mempercepat reaksi suatu senyawa. Kemampuan enzim yang unik dalam melaksanakan transformasi kimia yang khas dapat meningkatkan penggunaan enzim dalam berbagai proses industri, salah satu enzim yang sangat dibutuhkan dalam industri adalah amilase (α-amilase, β-amilase, dan ɣ-amilase atau glukoamilase)(Sianturi,2008).
Enzim amilase memiliki aplikasi untuk skala yang sangat luas mulai dari industry tekstil, konversi pati untuk gula sirup,produksi cyclodextrins untuk industri farmasi (Suarni,2007). Kebutuhan amilase didunia industri sangat tingggi, pada tahun 2004 saja sudah mencapai penjualan sekitar US 2 milyar, sedangkan amylase yang digunakan untuk industry makanan dan minuman pada tahun 2004 bernilai sekitar US 11 juta dollar (Sivaramakrishnan dkk,2006) seiring dengan meningkatnya penggunaaan enzim amilase, maka perlu dicari sumber enzim amylase dari bahan baku yang mudah didapatkan. Salah satu bahan yang memiliki potensi untuk dieksplorasi sebagai sumber enzim amilase adalah tumbuhan kacang-kacangan.
Sumber dari amilase yang cukup kaya adalah kecambah kacang-kacangan. Kecambah kacang-kacangan memiliki kandungan enzim amilase yang tinggi dibanding kondisi biji utuh ataupun tumbuhan dewasa, pada proses perkecambahan dangan makanan dalam biji-bijian diubah untuk membentuk struktur akar,batang daun(tunas). Perkecambahan merupakan proses pertumbuhan dan perkembangan embrio. Hasil perkecambahan ini adalah munculnya tumbuhan kecil dari biji dimana plamula tumbuh dan berkembang menjadi batang, dan radikula tumbuh dan berkembang menjadi akar.Perkecambahan dimulai dengan proses penyerapan air kedalam sel-sel pada biji. Masuknya air kedalam biji menyebabkan enzim aktif  bekerja. Enzim amilase bekerja memecah tapung  menjadi maltose, selanjutnya maltose dihidrolis oleh maltase menjadi glukosa. Protein juga di pecah menjadi asam-asam amino. Pada kecambah dari kacang hijau ini mudah penanamannya dan juga lebih mudah dilakukan isolasi dan karakterisasi pada beberapa variasi penanaman kecambah kacang(anonim).

BAHAN DAN METODE
Penelitian ini dilakukan mulai pada tanggal 28 September 2016 hingga tanggal 9 November 2016. Sampel diambil dari beberapa variasi penanaman kecambah yaitu tempat gelap dan terang serta lamanya hari penanaman. Selanjutnya dilakukanisolasi dan karakterisasi dilaboratorium.
Bahan Penelitian
Bahan utama yang digunakan pada penelitian ini adalah kecambah kacang hijau yang ditanam dengan variasi tempat gelap terang dan lamanya hari penanaman kecambah,Larutan Na-asetat 0,2 M, HCl 1 M, KI/I2 , aquades.
Alat Penelitian
Peralatan utama yang digunakan adalah PH meter, Timbangan, Pinset, Gelas ukur 100 ml,10 ml,25 ml, Gelas kimia, Mortar, Erlenmeyer, alat sentrifugasi, inkubator,thermometer,Spektrofotometer UV-Vis.

PROSEDUR KERJA
Penumbuhan kacang hijau
            Biji kacang hijau disortasi hingga diperoleh biji bersih dan utuh, dicuci, direndam dengan aquades selama 30 menit, ditiriskan, kemudian diperam dalam wadah berpori sampai terjadi perkecambahan (1, 2, 3, 4 dan 5 hari).
Pembuatan ekstrak enzim dari kecambah kacang hijau
            Kecambah dibersihkan dengan melepas kulit luarnya, sebagian sampel untuk analisis kadar protein dan air. Sebagaian ditimbang kemudian dihancurkan dengan blender, dimana untuk 1 g kecambah ditambahkan 5 mL buffer asetat 0,2 M  pH  5. Kecambah yang sudah hancur disimpan selama 10 menit sambil sekali-sekali dikocok kemudian dilakukan pnyaringan dengan kapas. Filtart yang dihasilkan disentrifugasi selama 20 menit dengan kecepatan 2000 rpm pada suhu 5oC. Selanjutnya dimasukkan ke inkubator untuk kemudian dibuat kurva kalibrasi dan penentuan aktivitas enzim.
Pembuatan Kurva kalibrasi
Dibuat konsentrasi 0,1 %, 0,2%, 0,3%, 0,4% , 0,5%, 0,6%, 0,7%, dan 0,9%, kemudian ditambahkan 200 mikroliter HCl 1M, 200 μL KI/I2 dan 3,4 dd H2O kedalam 200 μL pati terlarut. Kemudian diukur absorbansi pada panjang gelombang 600 nm.
Penentuan aktivitas enzim amilase
Disiapkan 200 μL pati terlarut 0,5 % kemudian ditambahkan 200 μL enzim α-amilase. Diinkubasi pada T 30OC selama 10 menit. Ditambahkan 200 μL HCl 1M, 200 μL, KI/I2 dan 3,4 dd H2O, kemudian diukur absorbansinya dengan panjang gelombang 600 nm.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Kecambah biji kacang hijau memiliki enzim amilase (enzim ini akan aktif setelah terjadi proses imbibisi atau penyerapan air). Enzim ini dibutuhkan untuk menghidrolisis pati menjadi maltosa, kemudian maltosa dihidrolisis oleh enzim maltase menjadi glukosa. Proses katabolisme ini ditujukan untuk pertumbuhan kecambah.
Pertumbuhan suatu kecambah atau tanaman memiliki beberapa faktor diantaranya yaitu tempat tumbuh dan lamanya penumbuhan.Berdasarkan tempat tumbuh yaitu tempat terang dan gelap dipengaruhi oleh fitohormon, terutama hormon auksin. Fungsi utama hormon auksin adalah sebagai pengatur pembesaran sel dan memacu pemanjangan sel di daerah belakang meristem ujung. Hormon auksin ini sangat peka terhadap cahaya matahari. Bila terkena cahaya matahari, hormon ini akan terurai dan rusak. Pada keadaan yang gelap, hormon auksin ini tidak terurai sehingga akan terus memacu pemanjangan batang. Akibatnya, batang tanaman akan lebih panjang jika ditanam di tempat yang gelap, tetapi dengan kondisi fisik tanaman yang kurang sehat, akar yang banyak dan lebat, warna batang dan daun pucat serta kekurangan klorofil sementara  ditempat terang kecambah memiliki warna segar dan memiliki daun berwarna hijau dan lamanya waktu mempengaruhi perkembangan kecambah yaitu semakin lama waktu pertumbuhan semakin tinggi kecambah. Berikut ini hasil dari pertumbuhan kecambah usia 5 hari :
                              
Tempat gelap     Tempat terang
Tabel 1. Pembuatan ekstrak enzim dari kecambah kacang hijau(tempat terang)
Perlakuan
Hasil
Digerus kecambah kacang hijau
Ditimbang 3 gr + 15 mL buffer asetat 0,2 mL (didiamkan 10 menit)
-Disaring
-Disentrifugasi 2000 rpm suhu 5oC






5 mL supernatant
ekstrak enzim

Tabel 2. Pembuatan ekstrak enzim dari kecambah kacang hijau(tempat gelap)
Perlakuan
Hasil
Digerus kecambah kacang hijau
Ditimbang 3 gr + 15 mL buffer asetat 0,2 mL (didiamkan 10 menit)
-Disaring
-Disentrifugasi 2000 rpm suhu 5oC






5 mL supernatant
ekstrak enzim
Ekstraksi enzim amilase dari kecambah yang telah ditanam dihancurkan dengan menggunakan alat mortar untuk mengeluarkan enzim amilase yang merupakan endoselluler. Kemudian ditimbang sebanyak 3 gr dengan timbangan analitik lalu dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Kemudian ditambahkan larutan buffer asetat untuk menstabilkan pH agar netral karena enzim tidak dapat bertahan pada pH yang terlalu tinggi ataupun terlalu rendah. Lalu didiamkan selama 10 menit dan sesekali diaduk. Hal tersebut bertujuan untuk mengoptimalkan pada saat ekstraksi enzim. Kemudian disaring dengan kertas saring whatman untuk memisahkan ampas dengan filtrat. Kemudian didapat 5 ml filtrat selanjutnya disentrifugasi. Sentrifugasi dilakukan pada kecepatan 2000 rpm Sehingga hasil akhirnya berupa supernatan yang berada di atas permukaan dan terdapat endapan yang disebut pellet.
Penentuan aktivitas enzim α-amilase dengan metode Fuwa adalah berdasarkan reaksi antara amilosa dengan iodin yang menghasilkan kompleks heliks dan memberikan warna biru yang khas, sehingga dapat diketahui besar absorbansi pada Spektrofotometer UV-Vis dengan panjang gelombang 600 nm, dimana besar penyerapan pada tempat terang absorbansi lebih besar hal ini disebabkan aktivitas enzim yang terdapat pada pertumbuhan tempat terang banyak dibandingkan tempat gelap karena kadar pati yang terkandung pada tempat gelap lebih besar akibat adanya proses fotosintesis sementara pada tempat gelap tidak terjadi proses fotosintesis yang baik.

Tabel 4. Pembuatan Kurva kalibrasi
Konsentrasi (%)
Panjang gelombang (nm)
absorbansi(A)
0,1
600 nm
0,313
0,2
600 nm
0,622
0,3
600 nm
0,735
0,4
600 nm
0,759
0,5
600 nm
0,757
0,6
600 nm
0,760
0,7
600 nm
0,761
0,9
600 nm
0,763
Bedasarkan tabel kurva kalibrasi yang didapat kurva kalibrasi sebagai berikut yaitu
Pada kurva kalibrasi dari konsentrasi 0,1%-0,7% dan 0,9% tingkat absorbansinya semakin meningkat, pembuatan kurva kalibrasi ini digunakan untuk mengetahui absorbansi optimum dari variasi persentase larutan sehingga pada kondisi optimumnya digunakan untuk pengukuran enzim amilase pada variasi tempat dan waktu penanaman kecambah.
Tabel 5. Pengukuran absorbansi sampel enzim α-amilase pada kecambah kacang hijau
Perlakuan
l
nm
A
Ket
Terang
Gelap

600
0,728
0,686
1 hari
Terang
Gelap
600
0,396
0,255
3 hari
Terang
-      Dengan daun
-      Tanpa daun
Gelap
600

0,701

0,548

0,359
5 hari
Terang
-      Dengan daun
-      Tanpa daun
Gelap
600

0,744

0,763

0,489
7 hari

Bedasarkan tabel diatas dapat dianalisis data dari kandungan enzim amilase dari sampel 1 hari, 3 hari, 5 hari dan 7 hari terjadi perbedaan hasil yang cukup signifikan, pada hari ketiga seharusnya hasil yang didapat pertumbuhan dari 1 hari sampai hari ke-3 meningkat kemudian menurun pada usia perkecambahan hari ke-5. Ketidaksesuaian dari data ini desebabkan karena pengerjaan 1 hari, 3 hari, 5 hari dan 7 hari tidak ditempat yang sama dan juga kadar air yang digunakan juga berbeda sementara itu aktivitas enzimatis sangat dipengaruhi oleh air karena air dapat mengaktifkan reaksi metabolisme pada kecambah. Peningkatan kadar air pada kecambah meningkatkan reaksi enzim amilase untuk memecah amilum dengan adanya air maka substrat lebih mudah berdifusi menuju enzim, sehingga kecepatan reaksi hidrolisis lebih cepat. Sehingga didapatlah data yang kurang bersesuaian saat pengukuran absorbansi dengan spektrofometer uv-vis pada hari ke-3 sementara absorbansi yang paling besar yaitu pada hari ke-7.
Sebagai perbandingan untuk menentukan hasil absorbansi secara tepat dilakukan pengulangan percobaan dengan waktu, perlakuan, bahan yang sama didapat data sebagai berikut :
Perlakuan
l
nm
A
Ket
Terang
Gelap

600

1 hari
Terang
Gelap
600
0,755
0,749
3 hari

Terang
-      Dengan daun
-      Tanpa daun
Gelap
600


0,716

0,599

0,497
5 hari

Terang
-      Dengan daun
-      Tanpa daun


Gelap
600


0,540

0,775



0.667
7 hari
Dari tabel data pengulangan perlakuan tersebut didapat data yang berubah signifikan dimana pada data ini dari hasil absorbansi dari hari ke-1 sampai hari ke-3 meningkat dan terjadi penurunan pada hari ke-5 dan ke-7 hal ini terjadi karena aktivitas enzim α-amilase pada usia ke 5 dan ke-7 telah berkurang sementara pada usia 1-3 merupakan kondisi optimum kecambah menghasilkan enzim α-amilase.Sementara pada tempat gelap enzim amilase yang dihasilkan kurang maksimal karena tidak terjadi proses fotosintesis dan yang berperan besar dalam pertumbuhan perkecambahan yaitu hormon giberelinnya sementara enzim amylase pada tempat gelap tidak terlalu berperan sehingga data yang didapatkan tidak konstan.

KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang didapat dapat disimpulkan bahwa kecambah kacang hijau menghasilkan enzim α-amilase banyaknya kandungan enzim dipengaruhi oleh usia dari kecambah dan juga lingkungan dari pertumbuhan kecambah yaitu tempat gelap dan terang, enzim α-amilase kecambah optimal pada usia 1-3 hari dan terjadi penurunan pada usia 5 hari, dan juga optimal pada kondisi terang karena pati pada kecambah akan terjadi proses fotosintesis sehingga jumlah enzim amilase yang didapat juga lebih besar.

DAFTAR PUSTAKA
Sivaramakrishnan, S., Gangadharan, D., Nampoothiri,K.M., Soccol,C.R., and Pandey,A., 2006, α-amilase from Microbial sources,Food technol, Bioethanol,44(2): 173-184.
Sianturi, D.C., 2008,Isolasi Bakteri dan Uji aktivitas enzim amilasetermofil kasar  dari sumber air panas panen sibirubiru Sumatera Utara, Tesis diterbitkan, Sekolah pasca sarjana Sumatera Utara, Medan.
Suarni dan patong,R., 2007, Potensi kecambah kacang hijau sebagai sumber enzim amylase, Indo J.Chem.,2007,7(3);332-336.

Publikasi : 9-11-2016
Semoga bermanfaat^^